Digitalisasi dalam penelitian ini diwujudkan melalui pengembangan platform web interaktif sebagai media utama untuk menampilkan, mendistribusikan, dan mengeksplorasi karya motion graphic berbasis mozaik digital. Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana publikasi, tetapi sebagai ruang pengalaman (experience platform) yang memungkinkan audiens berinteraksi secara langsung dengan karya. Dalam konteks seni digital kontemporer, web interaktif menjadi medium strategis karena mampu mengintegrasikan visual, gerak, dan interaksi dalam satu sistem yang dapat diakses secara luas dan fleksibel. Oleh karena itu, digitalisasi melalui platform web menjadi bagian integral dari sistem penciptaan karya, bukan sekadar tahap akhir distribusi.
Secara teknis, pengembangan platform web interaktif dilakukan dengan memanfaatkan teknologi berbasis front-end dan web animation framework yang mendukung visual dinamis dan responsif. Perangkat yang digunakan mencakup bahasa pemrograman HTML5, CSS3, dan JavaScript sebagai fondasi utama, serta library atau framework seperti WebGL, Three.js, atau GSAP untuk mengelola animasi, transisi, dan interaksi visual. Teknologi ini memungkinkan integrasi motion graphic ke dalam lingkungan web dengan performa yang optimal, termasuk pengolahan visual berbasis canvas dan GPU acceleration. Selain itu, sistem responsive design diterapkan agar platform dapat diakses melalui berbagai perangkat, baik desktop maupun mobile, tanpa mengurangi kualitas visual dan interaktivitas.
Dalam aspek penyusunan, platform web interaktif ini dirancang berdasarkan prinsip user experience (UX) dan user interface (UI) yang berorientasi pada eksplorasi non-linear. Struktur navigasi tidak disusun secara linier seperti halaman web konvensional, melainkan sebagai sistem modular yang memungkinkan pengguna menjelajahi konten berdasarkan pilihan interaksi. Setiap bagian karya direpresentasikan sebagai unit visual yang dapat diakses, diaktifkan, dan dihubungkan dengan bagian lain melalui mekanisme interaksi seperti klik, hover, scroll, atau gesture. Pendekatan ini sejalan dengan konsep mozaik digital yang fragmentatif, di mana pengalaman pengguna dibangun melalui hubungan antar elemen visual yang saling terintegrasi. Lebih lanjut, standar pengembangan platform web dalam penelitian ini mencakup beberapa aspek utama, yaitu:
(1) struktur sistem yang modular dan scalable,
(2) optimasi performa untuk menjaga kelancaran animasi dan interaksi,
(3) konsistensi visual antara desain dan implementasi digital, serta
(4) aksesibilitas pengguna melalui desain responsif dan intuitif.
Selain itu, dokumentasi kode dan sistem dilakukan secara sistematis untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan lebih lanjut. Dalam konteks eksposisi karya, platform ini juga dirancang untuk mendukung integrasi multimedia, seperti audio, teks naratif, dan elemen interaktif lainnya, sehingga memperkaya pengalaman pengguna dalam memahami reinterpretasi cerita Sangkuriang.
Dengan demikian, digitalisasi melalui platform web interaktif dalam penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai media presentasi, tetapi sebagai bagian dari sistem penciptaan yang memperluas dimensi karya dari objek visual menjadi pengalaman interaktif. Platform ini menjadi ruang di mana narasi, visual, dan teknologi bertemu, memungkinkan audiens untuk tidak hanya melihat, tetapi mengalami dan menginterpretasikan karya secara aktif. Hal ini menegaskan bahwa digitalisasi merupakan tahap strategis dalam mewujudkan karya seni yang adaptif, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan media digital saat ini.