Follow Us

Kurasi dan Intervensi

Home | Kurasi dan Intervensi

Kurasi dan intervensi artistik merupakan tahap krusial yang menentukan kualitas akhir dari proses penciptaan karya berbasis sistem generatif. Pada tahap ini, peneliti tidak hanya berperan sebagai pengumpul hasil visual, tetapi sebagai subjek kreatif yang secara aktif menyeleksi, menilai, dan mengarahkan hasil generatif agar tetap selaras dengan kerangka konseptual yang telah dirumuskan. Dalam praktik seni berbasis practice-based research, kurasi dipahami sebagai proses evaluatif yang tidak terpisahkan dari penciptaan, di mana keputusan artistik diambil berdasarkan pertimbangan makna, estetika, dan relevansi konteks (Candy & Edmonds, 2018). Oleh karena itu, kurasi dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis untuk memastikan bahwa setiap elemen visual yang digunakan memiliki keterkaitan langsung dengan narasi Sangkuriang serta struktur visual mozaik digital yang dikembangkan.

Secara operasional, proses kurasi dilakukan melalui beberapa kriteria utama, yaitu:

(1) kesesuaian makna, yang mengukur sejauh mana visual yang dihasilkan merepresentasikan simbol dan konflik naratif;

(2) kualitas estetika, yang mencakup komposisi, warna, tekstur, dan keseimbangan visual;

(3) konsistensi gaya, yang memastikan kesatuan visual antar elemen dalam sistem mozaik; serta

(4) potensi integrasi, yaitu kemampuan elemen visual untuk diolah lebih lanjut dalam motion graphic dan sistem interaktif. Proses ini bersifat selektif dan iteratif, di mana hasil generatif yang tidak memenuhi kriteria akan dieliminasi atau direvisi melalui pengulangan proses prompting. Dengan demikian, kurasi tidak hanya berfungsi sebagai penyaringan, tetapi sebagai mekanisme kontrol kualitas dalam sistem penciptaan karya.

Intervensi artistik dilakukan sebagai tahap lanjutan dari kurasi, di mana peneliti secara aktif memodifikasi, mengolah, dan mengintegrasikan hasil visual ke dalam struktur karya yang lebih kompleks. Intervensi ini meliputi manipulasi visual seperti penggabungan elemen (compositing), penyesuaian warna (color grading), pengaturan komposisi, serta pengembangan struktur mozaik digital berbasis modular. Selain itu, intervensi juga mencakup penerapan dinamika motion graphic, di mana elemen visual diaktifkan melalui gerak, transisi, dan ritme yang sesuai dengan alur naratif. Dalam konteks ini, intervensi artistik menjadi bentuk aktualisasi kreativitas peneliti yang memastikan bahwa hasil akhir tidak bersifat generatif murni, tetapi merupakan karya yang memiliki identitas artistik yang jelas.

 

Lebih lanjut, dalam kerangka kolaborasi kreatif hibrida, kurasi dan intervensi artistik menegaskan posisi peneliti sebagai pengendali utama dalam proses penciptaan. Studi dalam bidang human–AI co-creation menunjukkan bahwa kualitas karya berbasis sistem generatif sangat bergantung pada kemampuan manusia dalam melakukan seleksi dan interpretasi terhadap output yang dihasilkan (Shneiderman, 2022; Cetinic & She, 2022). Oleh karena itu, intervensi artistik tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual, di mana peneliti memastikan bahwa setiap keputusan visual tetap berakar pada makna budaya dan arah estetika yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, generatif visual menyediakan kemungkinan, sementara intervensi artistik menentukan realisasi.

 

Dengan demikian, kurasi dan intervensi artistik dalam penelitian ini berfungsi sebagai mekanisme penyempurnaan yang mengintegrasikan hasil eksplorasi generatif ke dalam sistem karya yang utuh. Tahap ini memastikan bahwa karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki kompleksitas visual, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan konsistensi estetika. Kurasi menjaga relevansi, intervensi membangun identitas. Keduanya menjadi kunci dalam mewujudkan model penciptaan karya seni yang tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga kuat secara konseptual dan artistik.

1)  Praktik Kurasi dan Intervensi Artistik pada Kasus Sangkuriang

Dalam konteks penciptaan karya berbasis narasi Sangkuriang, proses kurasi tidak dilakukan secara umum, tetapi spesifik pada elemen-elemen visual hasil generatif yang berasal dari mapping narasi → visual. Artinya, yang dikurasi bukan sekadar “gambar bagus”, tetapi kesesuaian antara makna naratif dan representasi visualnya.

Tahapan kurasi pada studi kasus Sangkuriang;

A.  Kurasi Representasi Karakter

Objek Kurasi:

a)     Visual Sangkuriang

b)     Visual Dayang Sumbi

Kriteria:

a)     Apakah Sangkuriang tampil: - dinamis, kuat, maskulin, progresif?

b)     Apakah Dayang Sumbi tampil: - stabil, elegan, bijaksana, harmonis?

Intervensi:

a)     Menghapus visual yang terlalu “realistik biasa” (tidak simbolik)

b)     Menguatkan karakter melalui: - fragmentasi (Sangkuriang) dan (Dayang Sumbi)

B. Kurasi Adegan Naratif (Scene Selection)

Objek Kurasi:

1)     Pertemuan

2)     Ketertarikan

3)     Konflik

4)     Ujian

5)     Kegagalan

6)     Transformasi

Kriteria:

a)     Apakah adegan:

1)    merepresentasikan fase naratif dengan jelas?

2)    memiliki potensi visual untuk motion?

Intervensi:

a)     Menggabungkan beberapa adegan menjadi satu visual kuat

b)     Menghilangkan adegan yang:

·       terlalu literal

·       tidak memberi nilai visual

C. Kurasi Struktur Mozaik Digital

Objek Kurasi:

a)     Pola modular

b)     Fragmentasi visual

c)     Grid / tesserae

Kriteria:

a)     Apakah struktur:

·       mendukung konsep fragmentasi postmodern?

·       tidak terlalu dekoratif?

Intervensi:

a)     Menyederhanakan pola yang terlalu kompleks

b)     Menyusun ulang komposisi agar:

·       readable dalam motion

·       kuat secara simbolik

D. Kurasi Warna dan Atmosfer

Objek Kurasi:

a)     Palet warna setiap fase cerita

Kriteria:

·       Cinta → hangat

·       Konflik → kontras tinggi

·       Klimaks → gelap / dramatis

·       Resolusi → natural / harmonis

Intervensi:

·       Color grading ulang

·       Menyamakan tone antar scene

E. Kurasi Output Generatif Kreatif

Objek Kurasi:

a)     Semua hasil dari kombinasi;

·       Midjourney

·       Stable Diffusion

·       RunwayML

·       Gemini Image

·       Video

·       Open Ai

Kriteria:

·       Relevansi dengan narasi

·       Konsistensi gaya mozaik

·       Potensi animasi

 

Intervensi:

·       Re-prompting (ulang generate)

·       Menggabungkan beberapa output

·       Editing manual (Photoshop/AE)

F. Kurasi Gerak (Motion Graphic)

Objek Kurasi:

·       Transisi antar scene

·       Ritme visual

·       Transformasi bentuk

Kriteria:

·         Apakah gerak:

·         memperkuat narasi?

·         tidak terlalu cepat / lambat?

Intervensi:

·         Mengatur timing

·         Menambahkan easing

·         Mengubah arah gerak simbolik

 

2). Kurasi Komputasi Kreatif (Berbasis Perangkat Lunak Manual

Dalam konteks penelitian ini, komputasi kreatif tidak hanya dimaknai sebagai proses generatif berbasis algoritma, tetapi juga sebagai praktik kreatif yang memanfaatkan perangkat lunak manual (non-generatif) untuk mengolah, memodifikasi, dan menyempurnakan hasil visual. Pendekatan ini menempatkan komputasi sebagai alat bantu berpikir visual (computational thinking in art), di mana proses kreatif berlangsung melalui interaksi langsung antara peneliti dan sistem digital. Dengan demikian, kurasi komputasi kreatif tidak hanya berfokus pada seleksi output AI, tetapi juga pada bagaimana hasil tersebut diproses ulang secara manual untuk mencapai kualitas artistik yang diinginkan.