Proyeksi metode penciptaan karya seni dalam penelitian ini diarahkan pada pengembangan pendekatan sistemik yang mengintegrasikan dimensi konseptual, teknologis, dan artistik secara terpadu. Metode penciptaan tidak lagi dipahami sebagai rangkaian langkah teknis yang linear, melainkan sebagai suatu sistem kreatif yang melibatkan interaksi dinamis antara manusia dan kecerdasan buatan dalam kerangka kolaborasi kreatif hibrida. Dalam konteks ini, proses penciptaan dimulai dari dekonstruksi narasi cerita rakyat Sangkuriang, dilanjutkan dengan translasi simbolik ke dalam bahasa visual, kemudian dieksplorasi melalui mekanisme generatif berbasis AI, hingga menghasilkan bentuk visual yang selanjutnya ditransformasikan ke dalam sistem mozaik digital dan dikembangkan menjadi motion graphic interaktif. Pendekatan ini sejalan dengan kecenderungan praktik seni berbasis sistem (systems-based art practice) yang menekankan pentingnya relasi antar komponen dalam menghasilkan karya (Edmonds & Candy, 2018; McCosker & Wilken, 2020).
Metode penciptaan karya seni yang diproyeksikan menempatkan prompt engineering sebagai salah satu instrumen artistik dalam proses generatif, di mana bahasa menjadi medium konseptual untuk mengarahkan produksi visual oleh AI. Dalam hal ini, peran seniman tidak tergantikan, melainkan bergeser menjadi pengarah makna, kurator visual, dan pengendali sistem kreatif. Proses ini bersifat iteratif dan eksperimental, memungkinkan eksplorasi berbagai kemungkinan bentuk visual sebelum dilakukan seleksi dan sintesis menjadi komposisi yang utuh. Kajian dalam computational creativity dan desain generatif menunjukkan bahwa pendekatan iteratif berbasis interaksi manusia–mesin mampu menghasilkan inovasi visual yang lebih kaya dan tidak terduga (Boden, 2016; Hertzmann, 2018). Dengan demikian, metode penciptaan yang dikembangkan tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk kerangka kerja kreatif yang dapat direplikasi dan dikembangkan lebih lanjut.
Metode ini juga mengintegrasikan proses transformasi visual ke dalam struktur mozaik digital sebagai strategi estetika sekaligus konseptual. Fragmentasi visual dalam mozaik tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi sebagai representasi struktur naratif yang terpecah dan direkonstruksi dalam bentuk baru. Hasil visual tersebut kemudian diolah dalam medium motion graphic untuk menghadirkan dimensi gerak, ritme, dan temporalitas, serta diintegrasikan dalam platform interaktif berbasis web yang memungkinkan keterlibatan pengguna. Dengan demikian, metode penciptaan yang diproyeksikan bersifat holistik, mencakup seluruh tahapan dari konsepsi hingga realisasi karya, sekaligus membuka ruang bagi diseminasi dalam bentuk pengalaman visual interaktif yang kontekstual dengan perkembangan media digital kontemporer.
1. Konsep
Translasi narasi ke konsep visual dalam penelitian ini merupakan tahap lanjutan yang berfungsi mengonversi hasil dekonstruksi naratif ke dalam sistem representasi visual yang operasional. Proses ini tidak sekadar memindahkan cerita ke bentuk gambar, melainkan mentransformasikan struktur makna menjadi bahasa visual yang terukur, terstruktur, dan dapat dikembangkan dalam medium mozaik digital motion graphic interaktif. Setiap elemen narasi tokoh, konflik, peristiwa, dan transformasi diterjemahkan ke dalam parameter visual seperti bentuk, warna, tekstur, komposisi, dan dinamika gerak. Pendekatan ini sejalan dengan teori bahasa visual yang menegaskan bahwa makna dapat dikonstruksi melalui relasi antara elemen visual dan konteks simboliknya (Kress & van Leeuwen, 2006), sehingga visual yang dihasilkan tidak bersifat dekoratif, tetapi mengandung struktur makna yang dapat dibaca.
Dalam kerangka ini, translasi dilakukan melalui sistem pemetaan (mapping system) yang menghubungkan unit naratif dengan elemen visual secara konsisten. Karakter Sangkuriang, misalnya, diterjemahkan ke dalam bentuk visual yang dinamis, tajam, dan fragmentatif untuk merepresentasikan karakter yang ambisius, kuat, dan penuh konflik. Sebaliknya, Dayang Sumbi divisualisasikan melalui bentuk yang stabil, simetris, dan harmonis sebagai representasi kebijaksanaan dan kontrol. Konflik naratif diterjemahkan ke dalam disrupsi visual, seperti pecahnya struktur mozaik, perubahan ritme gerak, dan kontras warna yang tajam. Sementara itu, fase transformasi dalam cerita diwujudkan melalui perubahan bentuk (morphing), transisi visual, dan dinamika gerak yang progresif. Dengan demikian, setiap elemen visual tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem representasi yang saling terhubung.
Lebih lanjut, translasi ini juga mempertimbangkan karakter media yang digunakan, yaitu mozaik digital dan motion graphic. Struktur mozaik memungkinkan distribusi makna ke dalam unit-unit modular yang dapat disusun ulang, sementara motion graphic menghadirkan dimensi temporal yang memungkinkan makna berkembang melalui gerak. Penelitian dalam bidang visual digital menunjukkan bahwa integrasi antara struktur modular dan dinamika temporal mampu meningkatkan kompleksitas representasi sekaligus memperkuat pengalaman visual pengguna (Manovich, 2020; Murray, 2021). Oleh karena itu, translasi narasi dalam penelitian ini tidak berhenti pada pembentukan visual statis, tetapi diarahkan untuk menghasilkan sistem visual dinamis yang dapat dioperasikan dalam konteks interaktif. Dengan demikian, tahap translasi narasi ke konsep visual menghasilkan sebuah kerangka visual yang berfungsi sebagai blueprint dalam proses penciptaan karya. Kerangka ini memastikan bahwa seluruh elemen visual yang dikembangkan tetap memiliki keterkaitan dengan narasi dan makna yang menjadi sumber ide. Selain itu, proses ini juga menjadi penghubung antara tahap konseptual dan tahap produksi, di mana gagasan yang bersifat abstrak mulai diwujudkan dalam bentuk visual yang konkret dan siap dikembangkan lebih lanjut dalam sistem mozaik digital motion graphic interaktif.
2. Bentuk
Karya dipahami sebagai sistem tanda visual yang membangun makna melalui relasi antar elemen. Setiap bentuk, warna, dan gerak tidak hanya bersifat estetis, tetapi memiliki fungsi semiotik dalam menyampaikan makna. Hermeneutika menjadi dasar dalam mentransformasikan makna naratif ke dalam bahasa visual.
3. Warna
Formulasi model penciptaan seni dalam penelitian ini disusun sebagai hasil sintesis dari keseluruhan proses eksplorasi, analisis, dan integrasi yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya. Model ini tidak hanya merangkum alur penciptaan karya, tetapi juga memformulasikan hubungan sistemik antara narasi, visual, dan teknologi dalam satu kerangka kerja yang operasional. Dalam konteks ini, model penciptaan dipahami sebagai konstruksi metodologis yang mampu menjelaskan bagaimana gagasan dikembangkan, diuji, dan diwujudkan menjadi karya melalui proses yang bersifat iteratif dan berbasis eksperimen. Dengan demikian, model ini tidak sekadar menggambarkan langkah kerja, tetapi menjadi representasi dari sistem penciptaan yang menghasilkan pengetahuan sekaligus karya seni.
Bentuk eksperimen dalam model ini diwujudkan melalui serangkaian pengujian yang dilakukan pada setiap tahapan proses penciptaan. Eksperimen pertama berfokus pada transformasi narasi ke dalam struktur simbol visual, di mana interpretasi terhadap cerita Sangkuriang diuji melalui berbagai kemungkinan representasi bentuk, warna, dan komposisi. Eksperimen kedua diarahkan pada konstruksi mozaik digital sebagai sistem visual modular, yang melibatkan pengujian terhadap variasi fragmentasi, struktur grid, serta hubungan antar elemen visual. Selanjutnya, eksperimen ketiga dilakukan pada aspek teknologi, khususnya dalam pengembangan motion graphic dan sistem interaktif, untuk menguji bagaimana gerak, ritme, dan respons pengguna dapat memperkuat pengalaman visual. Pada tahap ini, eksplorasi generatif juga menjadi bagian dari eksperimen, di mana variasi visual dihasilkan dan dievaluasi untuk menemukan bentuk yang paling sesuai dengan konsep yang telah dirumuskan.
Hasil dari rangkaian eksperimen tersebut kemudian disintesis dalam suatu model penciptaan yang bersifat integratif dan adaptif. Model ini menunjukkan bahwa penciptaan karya tidak berlangsung secara linear, melainkan melalui siklus berulang antara eksplorasi, evaluasi, dan pengembangan. Setiap hasil eksperimen menjadi dasar bagi tahap berikutnya, sehingga proses penciptaan berkembang secara progresif menuju bentuk yang lebih matang. Dalam kerangka ini, model penciptaan seni yang dihasilkan dapat dirumuskan sebagai sistem yang menggabungkan struktur visual mozaik digital, dinamika motion graphic, serta interaktivitas dalam satu kesatuan yang didukung oleh kolaborasi kreatif hibrida. Dengan demikian, formulasi model ini tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga memberikan kontribusi berupa model penciptaan yang dapat digunakan sebagai referensi dalam praktik seni digital kontemporer.
4. Tekstur
Platform generatif dalam penelitian ini berperan sebagai sistem pendukung yang memungkinkan pengembangan variasi visual dan eksplorasi bentuk secara lebih luas dalam proses penciptaan karya. Berbeda dengan perangkat produksi utama yang berfungsi untuk finalisasi visual, platform generatif digunakan pada tahap eksplorasi dan pengayaan gagasan visual, khususnya dalam pengembangan mozaik digital dan dinamika motion graphic. Dalam konteks ini, platform generatif tidak diposisikan sebagai pengganti peran pencipta, melainkan sebagai medium eksploratif yang memperluas kemungkinan visual melalui pendekatan berbasis sistem. Hal ini sejalan dengan konsep kolaborasi kreatif hibrida yang telah dirumuskan, di mana interaksi antara manusia dan sistem generatif menjadi bagian integral dalam proses penciptaan.
Secara teknis, platform generatif yang digunakan dalam penelitian ini mencakup perangkat dipergunakan computational creativity, text-to-image dan image-to-image generation, seperti Pendukung perangkat lunak Adobe pfotoshop, Adobe Indesign, Midjourney dan Stable Diffusion, serta perangkat berbasis video generatif seperti RunwayML. Platform tersebut memungkinkan pengembangan variasi bentuk mozaik, eksplorasi tekstur visual, serta alternatif komposisi yang tidak terbatas pada pendekatan manual. Selain itu, penggunaan teknik prompt engineering menjadi aspek penting dalam mengarahkan hasil generatif agar tetap sesuai dengan konsep visual yang telah dirumuskan. Dalam praktiknya, proses ini dilakukan melalui siklus iteratif yang melibatkan perumusan input, evaluasi output, dan seleksi hasil yang relevan dengan kebutuhan karya.
Dalam kaitannya dengan proses penciptaan, platform generatif digunakan untuk menghasilkan beberapa varian pengembangan karya, antara lain: (1) eksplorasi pola mozaik digital berbasis fragmentasi visual, (2) pengembangan alternatif komposisi dan struktur visual, (3) variasi warna dan tekstur untuk memperkuat karakter visual, serta (4) simulasi dinamika visual yang dapat diintegrasikan ke dalam motion graphic. Setiap varian yang dihasilkan tidak langsung digunakan sebagai output final, melainkan melalui proses kurasi dan adaptasi oleh peneliti untuk memastikan kesesuaian dengan makna naratif dan arah artistik. Dengan demikian, platform generatif berfungsi sebagai sistem pendukung dalam memperkaya eksplorasi visual, bukan sebagai penentu utama dalam penciptaan karya.
Lebih lanjut, standar penggunaan platform generatif dalam penelitian ini mencakup beberapa aspek penting, yaitu: (1) kontrol konseptual melalui perumusan prompt yang terstruktur, (2) seleksi dan kurasi hasil berdasarkan relevansi makna dan kualitas visual, (3) integrasi hasil generatif ke dalam sistem visual utama, serta (4) dokumentasi proses sebagai bagian dari metode practice-based research. Pendekatan ini memastikan bahwa penggunaan teknologi generatif tetap berada dalam kerangka metodologis yang terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Selain itu, penggunaan platform generatif juga mempertimbangkan aspek etika dan orisinalitas, dengan menempatkan hasil generatif sebagai bahan eksplorasi yang diolah kembali dalam proses kreatif. Dengan demikian, platform generatif dalam penelitian ini berfungsi sebagai ruang eksplorasi visual yang memperluas kapasitas penciptaan melalui variasi dan kemungkinan bentuk. Integrasi platform ini ke dalam sistem penciptaan karya memperkuat karakter adaptif dan inovatif dari model yang dikembangkan, sekaligus mendukung terciptanya karya yang memiliki kompleksitas visual dan kedalaman estetika. Dalam konteks penciptaan karya seni berbasis mozaik digital motion graphic interaktif, platform generatif menjadi elemen penting yang memperkaya proses kreatif tanpa menghilangkan kendali konseptual dari pencipta.